Kisah Inspiratif Riska Hermawati: Lulus Sarjana, Bangkit dari Korban Bullying, Hingga Sabet Juara III Bisnis Nasional


 Kerisjambi.id,Jambi- Keterbatasan fisik dan masa lalu yang kelam tidak menjadi penghalang bagi Riska Hermawati untuk mengukir prestasi dan membuktikan kualitas dirinya. Anggota Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani ini tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya dan meraih gelar Sarjana Hukum, tetapi juga membuktikan bahwasanya luka masa lalu bisa diubah menjadi bahan bakar untuk meraih keberhasilan.


​Di balik senyum dan keteguhannya saat ini, Riska menyimpan perjalanan hidup yang penuh ujian. Sejak kecil, bahkan sebelum menginjak bangku sekolah hingga SMP, ia kerap menjadi korban bullying (perundungan). Namun, ajaran orang tua serta prinsip hidup yang kuat menjadi benteng utamanya untuk tidak menyerah.



​"Sejak kecil orang tua memberi prinsip bahwa ketika saya lemah dan jatuh, di situlah para pem-bully merasa berhasil menjatuhkan saya. Saat SMP, saya sadar kalau saya lemah, mereka akan terus beriang gembira. Maka dari itu, saya memilih menyibukkan diri dengan mempelajari banyak soft skill seperti bermain drum, membordir, make up, hingga seni tari," tutur Riska.


​Prinsip tersebut kian mengakar kuat hingga membentuk mentalitas baja: "Satu hinaan akan saya tumbangkan dengan satu pencapaian." Bagi Riska, para pelaku perundungan bukanlah lawan yang layak. Lawan yang sesungguhnya adalah proses untuk membuktikan bahwa dirinya mampu dan terus berkembang.


Peran Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani dan Sentuhan Dingin Ida Mariyanti


Dalam proses tumbuh dan berkembangnya Riska hingga di titik sekarang, kehadiran Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani yang dipimpin oleh Ida Mariyanti memegang peranan yang sangat vital. Sanggar ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan rumah kedua yang menjadi wadah pembinaan, ruang bertumbuh, serta pelindung bagi para anggotanya untuk menggali potensi diri tanpa rasa canggung.


​Di bawah kepemimpinan Ida Mariyanti, Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani secara konsisten memberikan pendampingan, membuka akses informasi pelatihan, hingga mendorong setiap anggotanya untuk berani tampil di ruang publik. Bagi Riska pribadi, sosok Ida Mariyanti hadir sebagai mentor sekaligus penguat mental yang luar biasa.


​"Ibu Ida Mariyanti di Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani selalu meyakinkan saya ketika saya ragu. Beliau terus memberikan dukungan moral dan menegaskan bahwa saya punya potensi besar yang harus ditunjukkan kepada dunia," ungkap Riska.


​Dukungan ekosistem sanggar ini pula yang semakin memantapkan langkah Riska untuk terus menorehkan prestasi dan melatih kemandirian ekonominya.


Bungkam Perundung Lewat Deretan Prestasi

Langkah berani Riska membuahkan hasil manis. Saat duduk di bangku SMA, konsistensinya dalam mengasah bakat tari membawanya mewakili Provinsi Jambi dalam kompetisi tari tingkat nasional di Bandar Lampung pada tahun 2019.


​Semangat untuk terus melakukan upgrade diri itu berlanjut hingga ke jenjang perkuliahan. Meski sempat ragu saat awal kuliah karena khawatir sulit beradaptasi sebagai disabilitas, Riska membuktikannya lewat aksi nyata. Ia sukses mewakili kampus dan Provinsi Jambi dalam ajang tari solo tingkat nasional, hingga berhasil menyabet medali emas.


​Tak berhenti di panggung seni, berkat binaan di Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani dan dorongan dari sang mentor serta keluarga, Riska memasang target besar sebelum usianya menginjak 30 tahun. Ia ingin terus menambah pengalaman melalui program magang di bidang hukum sosial—khususnya perlindungan anak dan perempuan. Selain itu, Riska ingin 'membayar tuntas' kebaikan sanggar dengan membagikan keterampilan membatiknya untuk memberdayakan sesama rekan disabilitas di Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani.


Tumbuhkan Kemandirian Ekonomi dan Sabet Juara III Bisnis Nasional


Ketekunan Riska dalam mengasah soft skill sejak bangku sekolah kini membuahkan keberhasilan di dunia kerja dan wirausaha. Bakat make up dan kuliner yang dipelajarinya berkembang menjadi unit usaha mandiri di bidang Make Up Artist (MUA), kuliner, serta kerajinan batik.


​Kualitas wirausahanya semakin teruji setelah Riska memperoleh informasi dan dorongan dari sanggar untuk mengikuti seleksi pelatihan bisnis intensif berskala nasional selama dua bulan. Dalam pelatihan tersebut, ia digembleng berbagai materi esensial seperti copywriting, teknik fotografi produk, penentuan angle visual, hingga strategi marketing.


​Lewat kedisiplinan dan kerja kerasnya, Riska berhasil keluar sebagai Peserta Terbaik Juara III Nasional dan membawa pulang hadiah modal usaha sebesar Rp5.000.000.


​"Hadiah ini sepenuhnya saya jadikan modal usaha. Sebagian untuk mengembangkan usaha kuliner, dan sebagian lagi untuk melengkapi peralatan wedding di usaha MUA saya," ungkapnya.

Saat ini, Riska juga aktif membangun branding profesional secara digital dengan mengelola dua akun Instagram terpisah untuk bisnis MUA dan kulinernya. Kisah Riska Hermawati bersama Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani menjadi bukti nyata bahwa sinergi pendampingan yang tepat serta tekad yang kuat mampu mengubah keterbatasan menjadi karya dan prestasi yang membanggakan.


Dedikasinya di bidang ini dibuktikannya dengan sukses tampil dalam ajang bergengsi Festival Batanghari 2025, dan kembali dipercaya untuk tampil memperagakan karya fashion dan batiknya pada ajang Festival Batanghari 2026 pada malam Minggu besok.


​Hebatnya lagi, ilmu membatik yang diserapnya dari Sanggar Rindani kini tidak hanya dinikmati sendiri. Riska telah dipercaya menjadi instruktur dan mengajar batik tulis di tingkat kabupaten, menjadi bukti nyata bagaimana ia menebarkan manfaat dan memberdayakan masyarakat luas melalui keterampilannya. (*Red)