JAMBI - Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan salat Idul Adha 1447 H / 2026 M di Masjid Raya Tsamaratul Insan (Islamic Center) Provinsi Jambi pagi ini. Ribuan masyarakat Jambi memadati saf-saf ibadah hingga meluber ke halaman masjid, menyatu bersama jajaran pejabat tinggi daerah. Namun, ada yang berbeda pada perayaan kurban tahun ini. Kehadiran Prof. Iskandar Nazari, Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN utha Jambi sekaligus pencetus teori Ruhiologi (Ruhiologi Quotient), di atas mimbar utama sebagai Khatib, berhasil menyuntikkan getaran spiritual yang mendalam dan menggetarkan batin para jemaah.
Sebagai putra daerah asli Jambi, Prof. Iskandar memenuhi langsung permintaan Gubernur Jambi untuk menyampaikan pesan langit di tanah kelahirannya. Dengan gaya penyampaian yang bernas, komunikatif, dan menyentuh esensi terdalam manusia, beliau mengusung tema khutbah yang sangat kontekstual dengan realitas modern: "Wukuf Ruhani dan Hikmah Berkurban: Menggugat Matinya Nurani di Era Digital."
Sentilan Keras Ruhiologi: Ketika Manusia Menjadi Budak Algoritma
Di hadapan Wakil Gubernur Jambi, unsur Forkopimda, serta para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jambi yang hadir, Prof. Iskandar mengupas tuntas krisis spiritualita yang melanda manusia modern di bawah kubah agung Islamic Center. Beliau menegaskan bahwa di era ketika manusia sibuk meng-upgrade kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), bahkan menggembar-gemborkan kecerdasan spiritual (SQ) secara teoretis, ada ruang batin yang terlupakan dan mengalami kematian klinis: yaitu nurani.
"Hari ini kita menyaksikan manusia-manusia cerdas roboh oleh judi online, pinjaman online, hingga hilangnya rasa empati. Mengapa? Karena jiwanya kosong. Teknologi maju, tetapi nurani mati rasa akibat distorsi digital yang bising dan manipulatif," tegas Prof. Iskandar di tengah keheningan ribuan jemaah yang menyimak dengan saksama.
Mengaitkan dengan konsep Ruhiologi Quotient (RQ) sebagai navigasi kesadaran tertinggi, beliau mengajak masyarakat untuk melakukan 'Wukuf Ruhani' sebuah jeda spiritual sakral untuk menarik diri dari riuh rendahnya dunia virtual guna menghidupkan kembali fungsi qolbu. Menurutnya, hakikat kurban sejati bukanlah sebatas memotong leher hewan, melainkan menyembelih ego kebinatangan, keserakahan, dan dahaga akan pamer serta validasi semu di media sosial. Pada khutbah kedua terakhir tidak lupa pula mendoakan kepada Allah SWT membimbing agar kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur beserta seluruh jajaran pemimpin kami agar senantiasa melangkah dan memimpin jalannya roda pemerintahan dengan pancaran cahaya ilhahi (God Light) bimbingan ruhaniah.
Silaturahmi Semeja: Kehangatan Tokoh Bangsa dan Daerah
Usai rangkaian salat Idul Adha di Masjid Raya Tsamaratul Insan yang berlangsung tertib, agenda berlanjut dengan acara Open House di Rumah Dinas Gubernur Jambi. Momentum ini menjadi ruang refleksi lanjutan yang penuh kehangatan dan keakraban.
Dalam suasana silaturahmi tersebut, terlihat sebuah pemandangan menarik di meja utama. Prof. Iskandar Nazari duduk semeja, berdialog santai dalam harmoni pemikiran bersama: Gubernur Jambi, Wakil Gubernur Jambi, Ketua MUI Provinsi Jambi, Pimpinan MUI Pusat beserta Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi dan turut mendampingi pula para Asisten Setda, kepala OPD, serta tokoh-tokoh agama dan tamu undangan penting lainnya. Di meja makan tersebut, perbincangan mengalir hangat, tidak hanya seputar hidangan khas lebaran, namun juga mendiskusikan pentingnya penguatan karakter transintegratif bagi aparatur sipil negara dan dunia pendidikan di Jambi sebuah konsep yang menyatukan kecanggihan dunia kerja dengan kejernihan etika batin.
Pelaksanaan Idul Adha tahun ini di Jambi tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan sebuah tonggak pengingat dari panggung mimbar Mesjid Tsamaratul Insan (Islamic Center) bahwa di tengah arus digitalisasi yang tak terbendung, menjaga kompas nurani melalui pendekatan ruhani adalah harga mati agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya.

