Anggrek Hitam dan Kantong Semar, Kekayaan Hayati Tersembunyi di Danau Merah, Gunung Masurai

Dokumentasi Tim Ekspedisi di Anak Danau Merah, Gunung Masurai. 14 Januari 2026. Foto: Vasco Windu Alghifari.



KerisJambi.id, Basecamp Mapala SIGINJAI Unja 21 Januari 2026. Ekspedisi Anggota Muda Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) SIGINJAI Universitas Jambi ke kawasan Danau Merah, Desa Tanjung Berugo, memiliki tiga utama sebagai pemenuhan masa orientasi anggota muda Mapala SIGINJAI. Selain itu, ekspedisi ini juga bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna endemic di sekitar Danau Merah serta pembuatan peta jalur menuju Danau Merah melalui Desa Tanjung Berugo. Ekspedisi ini dilaksanakan mulai tanggal 11 Januari 2026 hingga 15 Januari 2026, yang diikuti oleh Pintauli Trivani BR Manalu, Vasco Windu Alghifari, dan di dampingi oleh Marsani salah satu Anggota Kehormatan Mapala SIGINJAI Unja.


Perjalanan tim dimulai dari Desa Tanjung Berugo menuju titik terdekat yang masih dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua sejauh kurang lebih tiga kilometer. Titik tersebut dikenal oleh warga setempat sebagai “perkebunan warga pondok”. Dari lokasi ini, tim melanjutkan perjalanan menuju Danau Merah dengan waktu tempuh sekitar dua setengah hari. Jalur yang dilalui belum resmi dan tertutup semak belukar serta banyak pohon kayu tumbang disepanjang jalan. Akibatnya tim harus melakukan penerobosan jalur. “Medannya cukup berat karena jalurnya belum terbuka,” jelas Pinta, salah satu Anggota Tim Ekspedisi.


Setibanya di Danau Merah, tim mendapati kondisi air yang sedang surut. Situasi ini justru memudahkan proses eksplorasi kawasan danau. Jika dalam kondisi normal eksplorasi diperkirakan memakan waktu satu hari, pada ekspedisi kali ini kegiatan eksplorasi dapat diselesaikan hanya dalam waktu 57 menit. “Air yang surut sangat membantu kami dalam mengamati area sekitar danau,” tambah Pinta.


Dalam kegiatan tersebut, tim berhasil mendata sejumlah flora dan fauna endemik. Beberapa di antaranya adalah anggrek permata hitam, serta katak pohon bergaris dan katak serasah yang ditemukan di kawasan Danau Merah. Temuan ini menjadi data awal penting bagi inventarisasi keanekaragaman hayati setempat.

Anggrek Hitam, di Danau Merah Gunung Masurai. 14 Januari 2026. Foto: Vasco Windu Alghifari.


Selain Danau Merah, tim juga melakukan penelusuran ke Danau Kering yang masih berada di wilayah Desa Tanjung Berugo. Keunikan Danau Kering terletak pada aliran airnya yang bermuara ke Air Terjun Duku. Jarak tempuh dari Danau Merah ke Danau Kering sekitar 24 menit perjalanan kaki, tanpa perlu penerobosan jalur meski jalur tersebut belum terbentuk secara resmi, kemudian perjalanan dilanjutkan menuju “anak” Danau Merah. Di kawasan ini, tim menemukan banyak tumbuhan kantong semar serta hamparan rumput yang cukup tebal. Waktu tempuh dari Danau Kering menuju anak Danau Merah sekitar 36 menit berjalan kaki.

                                        

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, tim Mapala SIGINJAI Unja kembali dari kawasan Danau Merah menuju Desa Tanjung Berugo dengan waktu tempuh satu hari perjalanan. Ekspedisi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan potensi wisata alam dan pelestarian lingkungan di wilayah tersebut.


Kepala Desa Tanjung Berugo menyambut baik kegiatan ekspedisi tersebut. Menurutnya, kegiatan ini mampu menggali potensi desa sekaligus memperkenalkan Desa Tanjung Berugo kepada khalayak luas. Dalam perjalanan, tim didampingi oleh satu anggota Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) serta satu orang warga desa setempat. Meski kelompok sadar wisata (darwis) sudah terbentuk, pengembangannya masih belum optimal.

 (PUTRI REGINA/KJA)