Oleh: Muhammad Ridwan
Kerisjambi.id | Bengkulu, 01/09/2026 - Kampus seharusnya menjadi ruang tempat mahasiswa belajar tentang perbedaan. Di dalamnya, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami teori dan ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar bagaimana berdialog, menghargai pendapat, bekerja sama, dan hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang serta pandangan yang berbeda.
Namun, realitas kehidupan organisasi mahasiswa terkadang menunjukkan wajah yang berbeda. Perbedaan organisasi yang semestinya menjadi kekayaan dalam kehidupan kampus justru dapat berubah menjadi sekat. Loyalitas terhadap organisasi yang awalnya merupakan bentuk komitmen dan kebanggaan terhadap tempat berproses, dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi fanatisme yang berlebihan.
Fanatisme tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka. Ia dapat muncul melalui hal-hal yang terlihat sederhana: enggan menghadiri kegiatan organisasi lain, meremehkan kelompok berbeda, minimnya komunikasi lintas organisasi, hingga munculnya anggapan bahwa organisasi sendiri lebih baik dibandingkan organisasi lainnya. Jika dibiarkan, kebiasaan semacam ini perlahan dapat membentuk polarisasi di lingkungan mahasiswa.
Padahal, organisasi mahasiswa pada hakikatnya bukan sekadar tempat berkumpul atau arena untuk mempertahankan eksistensi kelompok. Organisasi merupakan ruang belajar kepemimpinan, demokrasi, tanggung jawab sosial, komunikasi, dan pengembangan intelektual. Keterlibatan mahasiswa dalam organisasi bahkan memiliki kontribusi terhadap perkembangan kepemimpinan, kemampuan interpersonal, serta tanggung jawab sosial mahasiswa.
Ketika loyalitas kehilangan batas
Loyalitas terhadap organisasi tentu bukan sesuatu yang salah. Justru loyalitas diperlukan agar setiap anggota memiliki rasa memiliki dan kesungguhan dalam menjalankan tujuan organisasi. Persoalannya muncul ketika loyalitas tidak lagi disertai keterbukaan dan penghormatan terhadap kelompok lain.
Pada titik inilah loyalitas dapat berubah menjadi fanatisme.
Fanatisme organisasi dapat membuat seseorang melihat kelompoknya sebagai kelompok yang paling benar, paling unggul, atau paling layak mendapatkan pengaruh. Organisasi lain kemudian ditempatkan sebagai pesaing. Hubungan antarmahasiswa yang seharusnya dibangun atas dasar persaudaraan dan kerja sama akhirnya bergeser menjadi persaingan identitas.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui Social Identity Theory yang dikembangkan Henri Tajfel dan John Turner. Teori ini menjelaskan bahwa identitas seseorang dapat terbentuk melalui keanggotaannya dalam suatu kelompok. Ikatan terhadap kelompok sendiri (in-group) kemudian dapat membuat seseorang membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain (out-group). Identitas kelompok sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Masalah muncul ketika identitas tersebut terlalu dominan dan tidak diimbangi dengan toleransi.
Dalam konteks organisasi mahasiswa, kondisi itu dapat melahirkan stereotip, prasangka, ego sektoral, dan keengganan untuk bekerja sama dengan kelompok lain. Bahkan perbedaan pandangan mengenai persoalan kampus dapat berkembang menjadi polarisasi yang membuat hubungan antarmahasiswa semakin renggang.
Kampus membutuhkan lebih banyak dialog, bukan sekat
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kita melihat kampus sebagai miniatur masyarakat. Mahasiswa berasal dari berbagai daerah, budaya, agama, pengalaman, dan organisasi. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi modal sosial untuk membangun kehidupan akademik yang dinamis.
Karena itu, banyaknya organisasi mahasiswa sebenarnya bukan persoalan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana keberagaman tersebut dikelola.
Organisasi boleh berbeda. Cara berpikir boleh berbeda. Tradisi kaderisasi boleh berbeda. Bahkan pilihan sikap terhadap suatu persoalan juga boleh berbeda. Tetapi perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan kemampuan untuk duduk bersama.
Sebab, mahasiswa sedang dipersiapkan menjadi bagian dari masyarakat. Jika di dalam kampus saja seseorang tidak mampu berdialog dengan kelompok yang berbeda, bagaimana mungkin kelak ia mampu menghadapi masyarakat yang jauh lebih kompleks?
Di sinilah nilai tenggang rasa menjadi penting.
Tenggang rasa bukan sekadar menghargai perbedaan
Tenggang rasa sering kali dipahami secara sederhana sebagai sikap menghormati orang lain. Padahal, dalam konteks kehidupan sosial, maknanya jauh lebih luas.
Tenggang rasa berarti kemampuan untuk memahami perasaan, kebutuhan, kepentingan, dan sudut pandang orang lain tanpa harus kehilangan identitas diri sendiri. Ia mengajarkan seseorang untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan pihak lain.
Dengan tenggang rasa, seorang mahasiswa dapat tetap bangga terhadap organisasinya tanpa harus menganggap organisasi lain sebagai musuh. Seorang kader dapat memperjuangkan kepentingan kelompoknya tanpa mengabaikan kepentingan bersama. Perbedaan dapat tetap dipertahankan, tetapi persaudaraan tidak harus dikorbankan.
Nilai inilah yang perlu direaktualisasikan dalam kehidupan organisasi mahasiswa.
Reaktualisasi berarti bukan sekadar mengingat kembali nilai budaya yang pernah hidup dalam masyarakat, tetapi menjadikannya sebagai prinsip yang benar-benar diterapkan dalam kehidupan organisasi. Tenggang rasa perlu hadir dalam proses kaderisasi, pola kepemimpinan, komunikasi antarlembaga, hingga mekanisme pengambilan keputusan.
Mengubah budaya kompetisi menjadi budaya kolaborasi
Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan adalah membuka ruang dialog lintas organisasi. Forum bersama tidak harus selalu membahas konflik. Organisasi mahasiswa dapat bertemu untuk mendiskusikan persoalan akademik, lingkungan kampus, isu sosial, maupun persoalan masyarakat.
Kegiatan bersama juga dapat menjadi sarana untuk mengurangi jarak antarkelompok. Ketika mahasiswa dari organisasi berbeda bekerja dalam satu kegiatan sosial, pengabdian kepada masyarakat, diskusi, atau kegiatan akademik, mereka memiliki kesempatan untuk mengenal satu sama lain bukan berdasarkan label organisasi, tetapi berdasarkan pengalaman berinteraksi secara langsung.
Kaderisasi juga perlu menjadi perhatian. Kaderisasi jangan hanya membentuk anggota yang loyal kepada organisasi, tetapi juga membentuk individu yang mampu menghormati perbedaan, berpikir kritis, berdialog secara dewasa, dan bekerja sama dengan kelompok lain. Jurnal ini menekankan bahwa lemahnya internalisasi nilai toleransi dapat memperkuat eksklusivisme kelompok dan menghambat pembentukan mahasiswa sebagai warga negara yang demokratis.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan sebuah organisasi mahasiswa tidak seharusnya hanya dilihat dari seberapa kuat organisasinya secara internal. Lebih dari itu, perlu dilihat sejauh mana organisasi tersebut mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan membangun hubungan yang sehat dengan kelompok lain.
Berbeda organisasi, tetap satu tujuan
Pada akhirnya, organisasi mahasiswa memang tidak harus menjadi seragam. Justru perbedaan pemikiran dan karakter organisasi merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis di kampus.
Yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa identitas organisasi bukanlah tembok yang memisahkan mahasiswa.
Kita boleh berbeda nama, berbeda warna, berbeda tradisi, bahkan berbeda cara memandang suatu persoalan. Tetapi ada identitas yang lebih besar yang mempertemukan semuanya: sebagai mahasiswa, sebagai bagian dari sivitas akademika, dan sebagai generasi yang kelak akan mengambil peran di tengah masyarakat.
Karena itu, fanatisme yang membangun loyalitas tidak perlu dihilangkan. Yang perlu dikendalikan adalah fanatisme yang berubah menjadi eksklusivisme dan menganggap kelompok lain sebagai ancaman.
Tenggang rasa menawarkan jalan tengah: tetap memiliki identitas, tetapi tidak kehilangan empati; tetap loyal kepada organisasi, tetapi tidak menutup diri; tetap berbeda dalam gagasan, tetapi tetap bersaudara dalam kehidupan.
Jika nilai tersebut kembali dihidupkan dalam kaderisasi, kepemimpinan, komunikasi, musyawarah, dan kolaborasi lintas organisasi, maka kampus tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang pintar secara akademik. Kampus juga dapat melahirkan generasi yang mampu hidup dalam keberagaman, menyelesaikan perbedaan melalui dialog, serta menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok.
Sebab, organisasi mahasiswa seharusnya menjadi laboratorium demokrasi, bukan arena untuk memperbesar sekat.
Dan mungkin, salah satu cara paling sederhana untuk memulai perubahan itu adalah dengan kembali belajar satu hal yang mulai sering kita lupakan: menghargai orang lain meskipun kita tidak selalu sepakat dengannya.
Editor : Husni
