Menenun 1000 Harapan Disabilitas Menuju Panggung UNESCO"


Kerisjambi.id-Sosial- Kilas balik peringatan Hari Kartini tahun 2026 menjadi momen berharga bagi anak-anak disabilitas di Provinsi Jambi. Sebuah acara spesial digelar sebagai bentuk tindak lanjut dari kunjungan istri Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, yang juga merupakan pengurus Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Pusat.


​Acara yang berlangsung di Aula Kantor BWSS Aur Duri ini mengusung tema "Menenun 1000 Harapan Disabilitas Menuju Panggung UNESCO". Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, serta Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Pembina Dekranasda Provinsi Jambi.




​Pemilik Sanggar Disabilitas Prestasi Rindani sekaligus Pemerhati Disabilitas, Ida Mariyanti, menyampaikan bahwa momentum ini menjadi panggung penting untuk menunjukkan bahwa anak-anak disabilitas memiliki potensi yang luar biasa. Dalam acara tersebut, anak-anak istimewa dari Sanggar Disabilitas Prestasi Rindami binaan Ida Mariyanti ini unjuk bakat mulai dari demo membatik, peragaan busana (fashion show), menyanyikan lagu Melayu Jambi oleh Naufal, hingga pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh seorang anak tunanetra bernama Rizki.


​Ida Mariyanti mengakui, hingga saat ini akses anak-anak disabilitas untuk masuk ke dunia kerja formal, baik di instansi pemerintahan maupun BUMN, masih sangat sulit dan terbatas. Namun, dirinya menegaskan agar kondisi ini tidak membuat para orang tua menyerah atau sekadar mengharapkan rasa iba dari masyarakat.


​"Kita selaku orang tua tidak boleh meminta belas kasihan orang lain. Yang harus kita lakukan adalah menjual kemampuan anak-anak kita, apa yang mereka bisa dan apa kelebihan mereka. Kita harus isi dulu keterampilan atau skill mereka," ujar Ida Mariyanti.

​Lebih lanjut, Ida mengimbau para orang tua yang memiliki anak disabilitas untuk lebih jeli melihat minat dan bakat terpendam sang anak. Setelah bakat tersebut diasah dengan baik, tugas orang tua adalah menginformasikannya kepada khalayak luas. Jika pintu kerja di sektor formal masih tertutup, keterampilan tersebut bisa menjadi modal utama untuk membuka lapangan kerja mandiri, seperti penyedia jasa musik atau hiburan di berbagai acara pesta.


​Melalui sinergi dan silaturahmi yang konsisten bersama pemerintah, dunia usaha, serta organisasi peduli disabilitas, diharapkan stigma keterbatasan dapat terkikis dan digantikan oleh pengakuan atas karya nyata anak-anak disabilitas. (*Red) 


Tags: