Oleh: Prof. Iskandar Nazari | Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi | Founder Ruhiologi
Kerisjambi.id- Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi ruang refleksi kritis, bahkan koreksi radikal, atas arah pembangunan manusia Indonesia. Mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” Hardiknas 2026 sejatinya menempatkan bangsa ini pada satu pertanyaan mendasar: apakah pendidikan kita masih memanusiakan manusia, atau justru semakin menjauhkannya dari dirinya sendiri?
Di tengah arus disrupsi global, pendidikan nasional menghadapi paradoks serius. Di satu sisi, akses pengetahuan semakin terbuka dan teknologi semakin canggih. Namun di sisi lain, manusia yang dihasilkan justru kian kehilangan makna, arah, dan ketenangan batin. Inilah tanda bahwa yang mengalami krisis bukan sekadar sistem pendidikan, melainkan “jiwa” pendidikan itu sendiri.
Krisis Mental di Era VUCA: Generasi Cerdas yang Rapuh
Kita hidup dalam lanskap VUCA yang penuh ketidakpastian. Dalam situasi ini, kekuatan utama manusia seharusnya adalah ketahanan mental dan kejernihan makna hidup. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Data global menunjukkan satu dari tujuh manusia mengalami gangguan mental, dan satu dari enam anak muda terjebak dalam kesepian kronis. Di Indonesia, survei kesehatan mental remaja menunjukkan jutaan anak berada dalam kondisi rentan, dengan sebagian besar tidak mendapatkan bantuan profesional.
Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak dari mereka yang tampak “baik-baik saja”, aktif di media sosial dan berprestasi secara akademik, namun sesungguhnya mengalami kekosongan batin. Kita sedang menyaksikan lahirnya generasi yang kaya informasi, tetapi miskin makna.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari penetrasi hedonisme digital, di mana kebahagiaan diukur dari validasi semu seperti jumlah suka, tayangan, dan pengakuan artifisial. Pendidikan yang hanya berfokus pada aspek kognitif terbukti gagal menyediakan jangkar internal bagi peserta didik untuk bertahan dalam tekanan psikologis zaman.
Dari Transfer Pengetahuan ke Transformasi Makna
Merespons kondisi tersebut, berbagai kebijakan pendidikan mulai bergerak ke arah yang lebih humanistik, seperti pendekatan deep learning yang menekankan pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful. Ini merupakan langkah penting untuk menggeser pendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menjadi proses pemaknaan.
Namun demikian, pendekatan ini masih berpotensi menjadi teknis metodologis semata jika tidak ditopang oleh fondasi nilai yang lebih dalam. Pembelajaran yang bermakna tidak cukup hanya menyenangkan, tetapi harus mampu menjawab kegelisahan eksistensial manusia.
Di titik inilah konsep Kurikulum Cinta menemukan relevansinya. Dengan menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, ilmu pengetahuan, lingkungan, dan bangsa, pendidikan diarahkan untuk membangun keterhubungan yang utuh, tidak hanya horizontal tetapi juga vertikal.
Sekolah tidak lagi sekadar ruang belajar, tetapi menjadi ruang aman psikologis, tempat setiap peserta didik merasa dilihat, diterima, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya.
Ruhiologi dan Kecerdasan RQ: Mengembalikan Arah Pendidikan
Akar dari seluruh krisis ini sesungguhnya terletak pada terputusnya manusia dari dimensi terdalam dirinya, yaitu ruh. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan yang tidak hanya psikologis atau sosial, tetapi juga transendental. Di sinilah Ruhiologi hadir sebagai perspektif baru dalam pendidikan.
Ruhiologi menempatkan Kecerdasan Ruhiologi atau RQ sebagai kecerdasan hulu, yakni kecerdasan yang berakar pada kesadaran hubungan manusia dengan Tuhan. Berbeda dengan IQ yang bersifat rasional, EQ yang emosional, dan SQ yang berorientasi nilai universal, RQ menekankan dimensi transendental personal yang menjadi sumber moralitas terdalam manusia.
Tanpa arah dari RQ, IQ berpotensi menjadi kecerdasan yang manipulatif, EQ dapat berubah menjadi empati yang bersifat transaksional, dan SQ bisa berhenti pada simbol serta ritual tanpa kedalaman makna. Sebaliknya, dengan RQ sebagai fondasi, seluruh kecerdasan lain mendapatkan arah etik dan tujuan yang jelas. Manusia tidak hanya tahu, tetapi juga sadar untuk apa ia mengetahui.
Hilirisasi Pendidikan: Dari Nilai ke Tindakan Nyata
Transformasi pendidikan tidak cukup berhenti pada tataran konsep. Ia harus diturunkan ke dalam praktik nyata melalui apa yang dapat disebut sebagai hilirisasi pendidikan.
Dalam konteks ini, pembangunan infrastruktur pendidikan seperti revitalisasi puluhan ribu sekolah dan pemanfaatan teknologi digital merupakan langkah strategis. Namun perlu ditegaskan bahwa kemajuan fisik tanpa pembangunan batin hanya akan melahirkan kekosongan baru dalam bentuk yang lebih modern.
Hilirisasi Ruhiologi berarti nilai kejujuran hadir dalam praktik birokrasi, kesadaran spiritual tercermin dalam etos kerja, dan kepedulian sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. Sekolah dan kampus harus bertransformasi menjadi laboratorium peradaban, tempat nilai nilai luhur tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupkan.
Strategi Implementasi: Membangun Ekosistem Pendidikan Berbasis Nurani
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan langkah sistemik, yakni:
Pertama, integrasi nilai ruhiologi dalam seluruh mata pelajaran agar ilmu tidak terlepas dari tanggung jawab moral dan spiritual.
Kedua, transformasi peran guru dari sekadar pengajar menjadi mudarris, yaitu pendidik yang membimbing tidak hanya akal tetapi juga jiwa.
Ketiga, pembangunan budaya sekolah restoratif yang menolak perundungan dan mengedepankan penyembuhan relasi.
Keempat, penguatan layanan bimbingan konseling berbasis pendekatan ruhani sebagai pelengkap pendekatan psikologis modern.
Penutup: Pendidikan yang Menghidupkan Nurani
Hardiknas 2026 harus menjadi titik balik. Pendidikan Indonesia tidak boleh hanya mengejar kecerdasan, tetapi harus menghidupkan kesadaran. Tidak cukup membangun sistem, tetapi harus membangun manusia.
Di atas segala kecanggihan teknologi dan megahnya infrastruktur, ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu nurani.
Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar generasinya, tetapi oleh seberapa dalam mereka memahami makna hidup dan tanggung jawabnya sebagai manusia.
Jika pendidikan gagal menyentuh dimensi ruhani, maka kita tidak sedang membangun peradaban, kita hanya sedang menciptakan kecanggihan tanpa arah. Dan di situlah sesungguhnya krisis terbesar itu bermula. (*)
