Elegi Hijau Hitam: Antara Ampas Kopi dan Hilangnya Literasi

 


"Tujuh puluh sembilan tahun lalu, di sebuah ruang kelas sederhana di Yogyakarta, sebuah ikrar diucapkan. Bukan sekadar tentang mendirikan organisasi, tapi tentang menyatukan nafas keislaman dengan jati diri keindonesiaan." Begitulah, master hebat berbicara di forum LK I 9 tahun lalu.


"HMI bukan hanya soal atribut hijau hitam atau jargon-jargon di podium. Ia adalah kawah candradimuka tempat insan cita ditempa. Di tengah dunia yang kian bising dengan disrupsi, kita diingatkan kembali dengan sebuah komitmen untuk menjadi pengabdi yang tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga memiliki kedalaman spiritual." Tambahnya gagah dengan suara lantang.


Yang aku tahu, beberapa tahun lalu, HMI hidup di bawah temaram lampu diskusi, kita membedah buku, dari Dunia Sophie hingga buku-buku filsafat yang entah dari mana keberanian itu. Suara lantang bukan karena ego yang meninggi, tapi karena isi kepala yang penuh nutrisi.


Kini, HMI makin hari makin tenggelam, kritisnya hanya parsial, sisanya terbungkam dalam diam. Kanda dan Yunda kini jarang memegang buku di jemarinya, lebih sibuk memoles story agar terlihat estetis di pagi hari. Alih-alih bicara peradaban di balik meja kayu, hanya ada satu cup cake dan kopi yang mendingin layu.


Duduk bersama bukan lagi mencari solusi atas masalah apa yang sedang terjadi, hanya basa-basi hambar saja, hilangan ruh pula makna, apa yang dibawa setelah berjam-jam di cafe kota. Apakah Hanya sekedar tawa? Atau joget semata? Kalau dulu, setiap pulang selalu lahir sebuah tulisan atau setidaknya memperhalus perasaan.


Perempuan-perempuan hebat kini seolah keluar fitrahnya, "Jule" misalnya. Kita hanya sekedar menjadi penikmat, lalu di jadikan jokes lelucon skakmat. Apalagi, ada at least, yang bukan-bukaan aib tanpa tabir. Makin kesini, perempuan makin menjadi-jadi.


Kalau dulu, yang begitu-begitu, fenomena aneh segi perempuan maksudku, pasti langsung di bedah, forum keperempuanan menggema, salahnya apa, kendalanya dimana, bagaimana pandangan Islam, bagaimana pandangan perkembangan zaman, bagaimana teladan keperempuanannya, dari sisi Aisyah, Khadijah, atau cut nyak Dhien dan lainnya.


Sekarang sudah tidak lagi, pemikir-pemikir hebat sudah menjadi ibu yang mempersiapkan untuk regenerasinya sendiri wajar saja, karena buah rahimnya harus lebih gragas dari dia muda. Selain itu, fenomena kini, adinda-adinda yang masih aktif pin juga hanya jadi penikmat keadaan, lalu berakhir jadi bahan candaan di perkumpulan. padahal dulu, setiap fenomena dibedah dengan logika dan doa. 


Ternyata HMI terlena, kita lupa mempersiapkan regenerasi yang peka, termangu pada riuhnya tawa dan joget TikTok yang fana.


Pemikir hebat yang di agungkan dulu, sedang sibuk mencari nafkah, mereka telah berlalu menjadi ibu dan bapak sejarah, meninggalkan barisan kader yang kehilangan arah. Kepemimpinan di struktur jabatan hanya fokus kuantitas semata, namun kualitas dibiarkan begitu saja, itu pemimpin gagal melahirkan kader yang punya martabat.


Sesuai kata seorang kanda dulunya: "Hancurnya organisasi karena buruknya pemimpin," yang membiarkan idealisme terkikis oleh gaya hidup yang dingin.


So, jangan biarkan kopi hanya jadi properti foto, tapi jadikan ia teman dalam membedah isu agraria, gender, hingga geopolitik sekalipun. Ketua umum dan fungsioner di setiap level harus kembali ke meja baca. Jika pemimpinnya tidak pernah terlihat membaca buku, jangan harap kader bawahannya akan haus akan ilmu. Bukankah begitu kanda? Hahaha


Berhenti membanggakan jumlah anggota jika separuhnya hanya "tumpukan nama ala kadarnya". Kembalikan marwah kader perempuan sebagai subjek intelektual. Berhenti menjadikan perempuan hanya sebagai "pemanis" forum semata. Dorong diskusi kritis mengenai feminis dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan agar lahir kembali pemikir-pemikir hebat dari rahim HMI.


Terkahir, kader HMI harusnya tidak dak boleh di perbudak teknologi, mampu memanfaatkan media sosial bukan untuk pamer gaya hidup saja, tapi sebagai mimbar digital bedah kehidupan sosial.


HMI tidak butuh pujian hari ini, ia butuh tamparan agar terbangun dari tidur panjangnya. Selamat Milad, semoga kembali ke khittah.