Tragedi Guru Tanjabtim dan Tes Psikologi: Saat Luka Dijawab dengan Prosedur


Oleh: Prof. Iskandar Nazari, Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN STS Jambi & Founder Ruhiologi


Kerisjambi.id-Jambi- Peristiwa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur bukan sekadar berita duka. Ia adalah jeda panjang yang memaksa kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita, terutama dengan para guru?

Instruksi Gubernur Jambi untuk melakukan tes psikologi massal bagi guru SMA/SMK se-Provinsi Jambi tentu lahir dari niat baik. Negara ingin mencegah kejadian serupa terulang. Namun, niat baik tidak selalu otomatis melahirkan kebijakan yang menenangkan. Dalam konteks tertentu, ia justru dapat memunculkan kegelisahan baru.


Yang Terlihat dan yang Tak Terucap

Ledakan emosi yang berujung tragedi sering kali dianggap sebagai kesalahan individu. Padahal, dalam banyak kasus, ia adalah akumulasi panjang dari kelelahan yang tak pernah diberi ruang untuk pulih. Guru hari ini hidup di persimpangan yang rumit: tuntutan administrasi yang menumpuk, perubahan kebijakan yang cepat, tekanan moral untuk selalu “sabar”, dan kesejahteraan yang sering kali tak sebanding.

Dalam Ruhiologi, kondisi ini dikenal sebagai kelelahan eksistensial, bukan sekadar stres kerja, melainkan kehabisan makna. Ketika seseorang terus memberi tanpa sempat diisi, maka yang terkuras bukan hanya energi, tetapi juga ketenangan batin.


Tes Psikologi di Tengah Luka

Tes psikologi pada dasarnya adalah alat bantu. Ia bisa berguna jika ditempatkan dalam ekosistem yang tepat. Namun, ketika dilakukan secara massal, terburu-buru, dan di tengah suasana duka kolektif, ia berisiko berubah fungsi, dari alat pemulihan menjadi sumber kecemasan.

Banyak guru tidak bertanya, “Apakah ini untuk menolong saya?”

Yang muncul justru, “Apakah saya sedang dinilai?”

Kekhawatiran akan label, stigma, dan dampak karier adalah rasa yang manusiawi. Dan di titik ini, kita perlu jujur: penyembuhan jiwa tidak pernah tumbuh dalam iklim ketakutan. Ketenangan hanya lahir ketika seseorang merasa aman dan dihargai sebagai manusia, bukan sekadar objek evaluasi.


Cermin yang Perlu Dibersihkan, Bukan Dihakimi

Tes psikologi mungkin mampu menunjukkan retakan kecil di permukaan. Namun, ia tidak serta-merta memulihkan kejernihan batin seorang guru yang telah lama lelah. Tanpa tindak lanjut yang manusiawi, hasil tes hanya akan menjadi angka, dingin, sunyi, dan mudah disalahgunakan.

Pertanyaan terpentingnya bukan siapa yang bermasalah, melainkan siapa yang menemani mereka untuk pulih.


Jalan Pemulihan: Merawat, Bukan Mengadili

Jika tes psikologi tetap dijalankan, maka ia harus diletakkan dalam kerangka restoratif, bukan represif.

Pertama, martabat guru harus dijaga sepenuhnya. Kerahasiaan hasil tes bukan sekadar prosedur teknis, tetapi syarat etik.

Kedua, harus ada ruang pemulihan yang nyata: dialog, pendampingan, dan sentuhan spiritual yang menguatkan kembali makna menjadi pendidik.

Ketiga, negara perlu berani meninjau ulang beban administratif yang selama ini perlahan menggerus jiwa para guru.

Guru bukan mesin data. Mereka adalah penuntun nilai dan nurani. Ketika ruh mereka terawat, kelas akan kembali menjadi ruang aman, bagi murid, dan bagi guru itu sendiri.


Penutup

Tragedi Tanjabtim seharusnya menjadi cermin bersama, bukan sekadar alarm kebijakan. Jangan sampai luka yang dalam hanya dijawab dengan formulir dan prosedur. Pendidikan yang sehat lahir dari manusia yang dimuliakan.

Dan guru yang dimuliakan, secara batin dan kemanusiaan, akan selalu menemukan cara untuk memuliakan masa depan anak-anak kita.

Tags: