Kerisjambi.id- MUARO JAMBI,Program perluasan bauran energi hijau pemerintah kembali mencetak babak baru. Per 1 Juli 2026, bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar B50 resmi mengaspal di wilayah Kabupaten Muaro Jambi, Sumatra Jambi. Kendati implementasi bahan bakar ramah lingkungan ini berjalan mulus, ketersediaan pasokan Solar subsidi di jalur strategis Lintas Timur Sumatra dinilai masih jauh dari kata mencukupi.
Untuk diketahui, B50 merupakan racikan bahan bakar diesel dengan komposisi 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit (FAME) dan 50 persen solar fosil. Meski kadar minyak sawitnya meningkat dari formula B40 sebelumnya, pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga. Solar subsidi dengan bauran B50 ini tetap dilepas ke masyarakat seharga Rp6.800 per liter.
Kehadiran Biosolar B50 salah satunya sudah dapat ditemui di SPBU 24.363.68 yang berlokasi di Jalan Lintas Timur Sumatra, Muaro Jambi. Pengawas SPBU 24.363.68, Agi Dian Dayana, mengonfirmasi bahwa pasokan B50 di tempatnya disalurkan secara rutin dari unit distribusi wilayah Linggau.
Meski begitu, tingginya volume kendaraan logistik dan lintas provinsi yang melintas membuat pasokan harian cepat terkuras.
"Per hari kami menerima pasokan secara rutin sebanyak 8 ton. Namun karena tingginya permintaan di jalur lintas ini, stok tersebut biasanya hanya bertahan sekitar 4 hingga 5 jam saja sebelum habis," ujar Agi Dian Dayana.
Imbas dari terbatasnya kuota pasokan harian ini membuat area pengisian Solar di SPBU kerap mendadak lengang pascastok ludes. Para sopir terpaksa memarkirkan kendaraannya atau mencari lokasi lain sembari menunggu kedatangan truk tangki pengirim berikutnya.
Di sisi lain, kekhawatiran sebagian pengemudi terkait dampak penggunaan B50 terhadap daya tahan mesin kendaraan perlahan mulai terkikis. Kadar minyak sawit yang lebih tinggi sempat memicu spekulasi terkait penyumbatan filter atau penurunan performa mesin armada berat.
Toni, salah seorang sopir truk yang kerap melintasi jalur Sumatra, mengaku sempat waswas saat awal masa transisi B50 diterapkan.
"Awalnya memang sempat khawatir, takut mesin kurang bertenaga atau ada kendala teknis di jalan karena campuran sawitnya makin tinggi. Tapi sejauh ini setelah dicoba, belum merasa ada masalah atau kendala yang berarti pada mesin," ungkap Toni saat ditemui di lokasi antrean.
Meskipun performa mesin kendaraan dinilai aman, para pengemudi dan pengelola SPBU berharap pemerintah serta pihak terkait dapat mengevaluasi dan menambah kuota harian Solar subsidi di jalur-jalur vital Sumatra. Hal ini penting agar mobilitas logistik masyarakat tidak terhambat oleh kekosongan stok yang berulang saban hari. (*Red)
