![]() |
| Agus di dampingi kakak kandung melapor ke Polda Jambi |
Kerisjambi.id-Jambi- Agus Saputra, Guru Bahasa Inggris SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, resmi melaporkan aksi pengeroyokan yang dialaminya ke Polda Jambi.
Agus melapor setelah menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswanya. Peristiwa tersebut terekam video dan viral di media sosial, memicu perhatian luas publik. Laporan resmi dilakukan pada Kamis (15/1/2026) sore hingga malam hari.
Sekitar lima jam lamanya, Agus menjalani pemeriksaan intensif di Polda Jambi dengan didampingi kakak kandungnya, Nasir. Dalam laporan itu, Agus menyerahkan hasil visum sebagai bukti atas tindakan kekerasan yang dialaminya.
Akibat pengeroyokan tersebut, Agus mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh, seperti wajah, tangan, dan punggung. Tak hanya luka fisik, Agus juga mengaku mengalami trauma psikologis akibat kejadian itu, terlebih setelah video insiden tersebut tersebar luas di media sosial.
“Adik saya dirugikan secara mental dan psikis, apalagi setelah videonya viral. Kondisinya juga masih pusing. Sebagai warga negara, kami merasa berhak menempuh jalur hukum,” ujar Nasir kepada wartawan di Polda Jambi.
Nasir menegaskan bahwa laporan tersebut ditujukan kepada lebih dari satu siswa yang terekam dalam video viral tersebut. Bukti visum menunjukkan adanya bekas luka lebam yang kini menjadi bagian dari proses penyelidikan kepolisian.
“Sudah ada visum, dan jelas terlihat bekas lebam di tubuh adik saya,” tambahnya.
Sementara itu, Agus Saputra memilih irit bicara dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.
Diketahui sebelumnya, Agus juga telah melaporkan insiden pengeroyokan ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Kini, kasus tersebut resmi bergulir ke ranah hukum dan tengah ditangani Polda Jambi.
Update terakhir, perempuan yang mengaku sebagai Ketua Osis SMK 3 Tanjabtim membuat video permohonan maaf di ig @cicitvjambi.
Kejadian ini jadi pengingat, bahwa kekerasan didunia pendidikan jangan sampai terjadi karena akan mencoreng nama baik pendidikan yang telah lama diperjuangkan oleh pendahulu bangsa. Terutama bagi para murid, agar menghormati para Guru yang merupakan Pahlawan tanpa tanda jasa yang mendedikasikan diri dalam mencerdaskan anak bangsa. (*Redaksi)
