JAMBI – Anggota DPR RI Rocky Candra menilai Empat Pilar Kebangsaan masih relevan sebagai jawaban atas berbagai tantangan kebangsaan yang muncul belakangan ini. Ia menyebut, maraknya konflik sosial, intoleransi, hingga polarisasi politik menunjukkan bahwa pengamalan nilai kebangsaan belum sepenuhnya mengakar dalam kehidupan masyarakat. Kelurahan Selamat, Kec. Danau Sipin. 25/12/25
Menurutnya, Indonesia adalah negara dengan tingkat keragaman yang tinggi. Karena itu, keberadaan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, tetapi fondasi utama yang menjaga bangsa tetap utuh. “Empat Pilar ini tidak lahir tanpa alasan, melainkan hasil perenungan panjang para pendiri bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus dihadirkan sebagai nilai hidup bersama, bukan hanya sebagai materi hafalan dalam ruang-ruang formal. Nilai gotong royong, toleransi, serta rasa saling menghormati, kata Rocky, perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.
Selain itu, Rocky Candra menyoroti kecenderungan meningkatnya polarisasi di ruang publik, terutama melalui media sosial. Perbedaan pandangan politik, yang seharusnya dikelola secara dewasa, kerap berubah menjadi permusuhan. “Di sinilah Empat Pilar berperan sebagai kompas moral agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kebangsaan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam negeri sendiri, berupa melemahnya rasa kebersamaan. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi menggerus persatuan nasional. “Kita perlu kembali pada konsensus berbangsa yang telah disepakati,” ujar Rocky.
Menurutnya, penguatan Empat Pilar harus dilakukan secara simultan melalui pendidikan keluarga, lembaga pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan. Ia menilai semua pihak memiliki peran dalam memastikan nilai kebangsaan terus diwariskan kepada generasi muda.
“Jika Empat Pilar diamalkan secara konsisten, berbagai persoalan kebangsaan akan menemukan jalan keluar,” kata Rocky menutup pernyataannya. Ia berharap pengamalan nilai tersebut tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
