Memilih Untuk Menjawab Kekerasan dengan Intelektualitas, HMI Jambi Menyerukan Kesabaran dan Kedewasaan Pasca Insiden PBAK UIN STS

 

Penulis: Vadel Muhammad Pajri (Kader HMI Cabang Jambi)


Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi seharusnya menjadi pesta akademik, sebuah ruang pengantar mahasiswa baru ke dunia ilmu, etika, dan intelektual. Tetapi, apa yang terjadi? Alih-alih memberi teladan, kegiatan itu justru ternodai dengan keributan, pengeroyokan, hingga penodaan simbol organisasi mahasiswa Islam.


Penulis bukan hanya menulis sebagai mahasiswa biasa, penulis merupakan salah satu kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jambi, yang hatinya terbakar namun akalnya menolak tunduk pada emosi. “Insiden di PBAK ini membuat saya merenung: seberapa jauh kampus Universitas Islam Negeri sudah menyimpang dari jati dirinya sebagai kampus Islami? Bagaimana bisa institusi yang membawa nama besar Islam justru memproduksi tontonan premanisme di hadapan mahasiswa baru?” 


Penulis melihat dengan getir bagaimana bendera HMI simbol perjuangan yang telah mengakar puluhan tahun dalam sejarah bangsa dilecehkan. Itu bukan sekadar selembar kain. Itu adalah warisan ideologi, darah, dan keringat generasi sebelumnya. Ketika simbol itu diinjak, maka sesungguhnya oknum itu sedang menginjak sejarah, menginjak martabat, dan menginjak harga diri kader-kader HMI yang masih bernafas hari ini.


Apakah kita sebagai kader HmI tidak marah? Tentu kita marah. Tetapi marah bukan berarti kehilangan kendali. Justru di situlah tantangannya, apakah kita mau terperosok dalam lubang yang sama, atau kita berdiri lebih tinggi, menunjukkan bahwa kita berbeda dari segelintir oknum organisatoris tersebut yang tidak tahu nilai-nilai moral dan etika, hanya tahu menggunakan otot?


Penulis ingin mengajukan pertanyaan yang penting, namun sebelumnya maaf jika terlalu terkesan menyakitkan. “UIN STS Jambi ini sebenarnya kampus atau gelanggang preman? Bagaimana mungkin sebuah acara akademik bisa berubah menjadi ajang pengeroyokan? Bagaimana bisa kampus diam seolah-olah tak terjadi apa-apa? Saya merasa miris. Kampus yang seharusnya jadi rumah ilmu berubah jadi arena pertarungan. Mahasiswa baru yang mestinya dikenalkan pada keilmuan justru diperlihatkan tontonan kekerasan. Bukankah ini pengkhianatan terhadap semangat akademik?”


Mari kita bicara jujur. Insiden ini adalah tindak pidana. Ada pengeroyokan, ada penganiayaan. KUHP tidak buta, Aparat tidak boleh tuli. Ini bukan hanya sekadar “gesekan antar mahasiswa”, tapi sebuah kejahatan yang harus diproses. Penulis menegaskan, jalan yang diambil kader HMI bukan balas dendam. Jalan kita adalah hukum. Kita harus dorong kepolisian, kader-kader HMI harus mengawal kinerja aparat, agar kasus ini ditangani sampai tuntas. Jika aparat lamban, jika hukum hanya jadi formalitas, maka bukan hanya HMI yang dirugikan, tetapi seluruh iklim akademik Jambi yang tercoreng.


Jika hukum tumpul, maka mahasiswa akan kehilangan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, jalanan akan kembali jadi arena pertarungan. Itulah yang Penulis khawatirkan. Karena itu, hukum harus jadi panglima, bukan dendam yang membara.


Kekerasan yang terjadi di PBAK UIN STS Jambi adalah bukti nyata bahwa ada yang gagal memahami arti intelektualisme. Apa yang bisa diwariskan dari sebuah pengeroyokan? Hanya kebodohan. Apa yang bisa dipelajari dari menghina simbol organisasi? Hanya kebencian. “Saya katakan dengan keras: bahwa premanisme adalah kebodohan yang dipelihara. Mereka yang mengandalkan otot tanpa otak sesungguhnya sedang memperlihatkan kekosongan. Mereka bisa memukul, bisa menginjak, bisa berteriak, tapi tidak bisa berpikir.”


Kader HMI tidak boleh terjebak dalam jebakan kebodohan ini. Kita ditempa untuk menjadi insan cita, bukan insan preman. Penulis tahu, saat ini banyak kader HMI yang sedang marah. Emosi menggelegak, amarah menuntut balas. Tetapi Penulis memohon dengan segenap hati, jangan sampai kita balas dengan cara yang sama. Kita bukan mereka. Kader-kader HMI bukan preman.


Mari kita tunjukkan perbedaan. Biarkan mereka berteriak, biarkan mereka menghina, biarkan mereka merusak. Kita akan menjawab dengan laporan resmi, dengan konferensi pers, dengan diskusi publik, dengan langkah-langkah hukum yang sah. Itulah cara kita menjaga marwah. Kita harus tunjukkan kepada mahasiswa, masyarakat, dan khususnya mereka yang tidak tahu bahwa HMI itu bukan organisasi yang sesat atau organisasi sembarangan. HMI adalah rumah intelektual, kader HMI lahir dari gagasan, HMI tumbuh dengan akal sehat.


Kampus tidak boleh berdiam diri. Rektor, Dekan, dan seluruh stakeholder di UIN STS Jambi jangan pura-pura buta. Jangan hanya pandai berbicara di podium, tetapi diam ketika ada mahasiswa yang sudah dipukul dan dikeroyok, jika kampus gagal mengambil sikap, maka kampus tersebut sedang membunuh moralitas, dan merusak integritasnya sendiri. Kampus tersebut akan dikenal bukan sebagai pusat ilmu, melainkan sebagai pusat arogansi. Kampus tanpa etika adalah bangunan kosong. Rektor tanpa keberanian adalah boneka seremonial. 


Sebagai kader HMI dan mahasiswa, Penulis menyampaikan jalan yang harus ditempuh yaitu menuntut pihak kampus mendorong proses hukum secepat mungkin, jika aparat lambat, kita punya hak moral untuk menuntut. Kita bisa menggelar aksi damai, bukan untuk keributan, tapi untuk mengingatkan bahwa hukum harus tegak. Kemudian kader HMI harus menjaga identitasnya sebagai insan intelektual, jangan mau ditarik masuk ke kubangan kekerasan. Balasan terbaik untuk kebodohan adalah gagasan. Dan bagian terpentingnya adalah Pejabat kampus harus hadir, bukan menghilang, Pimpinan kampus harus berani membuat pernyataan tegas, memberi sanksi, dan menjamin keamanan mahasiswa. Jika tidak, mereka gagal menjalankan mandat moral dan akademik.


HMI tidak boleh kalah oleh emosi. Kita harus menang dengan gagasan. Kita harus menang dengan hukum. Kita harus menang dengan akhlak. Keadilan bukan soal siapa yang punya tangan paling keras, tapi siapa yang punya hati paling teguh.