Peneliti BRIN Kunjungi Sanggar Batik Disabilitas Prestasi Rindani, Teliti Aksara Incung dalam Karya Budaya Kerinci

 


Kerisjambi.id, Kota Jambi, 14 Juni 2025 — Sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kunjungan khusus ke Sanggar Batik Disabilitas Prestasi “Rindani” di Payo Lebar Kota Jambi, pada Kamis (12/6) lalu. Kunjungan ini menjadi bagian dari riset mereka tentang Aksara Incung, salah satu warisan budaya Kerinci yang kini mulai diaplikasikan dalam karya seni batik.


Kedatangan tim BRIN yang berjumlah empat orang ini merupakan tindak lanjut dari informasi yang mereka peroleh dari Dinas Pariwisata Provinsi Jambi. Mereka diarahkan langsung ke Sanggar Rindani oleh Dr. Ema, pejabat Dinas Pariwisata Provinsi Jambi yang mengenal baik penggiat budaya lokal itu.


“Saya ingin meneliti tulisan yang terukir di tanduk dan bambu—yang dikenal sebagai Aksara Incung. Saya dengar, tulisan itu sudah diterapkan dalam motif batik di sini,” ujar salah satu peneliti.



Pendiri Sanggar Batik Disabilitas Prestasi Rindani, Ida Mariyanti pun menyambut baik kunjungan tersebut dan menjelaskan bahwa dirinya merupakan salah satu penggagas pemanfaatan Aksara Incung dalam motif batik Kerinci. Ia bercerita bahwa ide ini lahir dari keinginannya untuk mengangkat kearifan lokal melalui media tekstil.


Karena waktu sudah memasuki waktu magrib, para peneliti BRIN berjanji kembali keesokan harinya. Benar saja, pada Jumat (13/6), mereka datang kembali bersama dua orang tambahan dan turut menyaksikan langsung kegiatan membatik yang melibatkan para penyandang disabilitas.


“Mereka belajar membatik dari awal, mulai dari proses pelilinan dengan motif incung, pewarnaan, hingga tahap pelorotan. Mereka menyelesaikan sapu tangan batik bermotif incung dalam waktu dua jam,” ungkap pendiri sanggar dengan bangga.



Para peneliti juga menanyakan kepada Ida sejauh mana pengembangan batik bermotif lokal di Kerinci dan Sungai Penuh. Ida menyebutkan beberapa nama seperti Deli Iriani, murid sekaligus desainer yang turut memperkaya desain batik Kerinci.


"Di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, batik tumbuh sangat pesat. Perajin terbanyak ada di dua wilayah ini, dengan desain yang berbeda-beda yang memperkaya seni dan bahasa budaya," tambahnya.


Mereka juga diperlihatkan beberapa motif khas seperti Pusako Batuah, Pompong, serta berbagai motif khas Kerinci lainnya. Sebagai bentuk penghargaan, tim BRIN turut membeli beberapa karya batik sebagai cinderamata.


Tak hanya meneliti motif dan aksara, peneliti BRIN juga menaruh perhatian pada kegiatan inklusif di sanggar tersebut. Sanggar Rindani dikenal aktif memberdayakan penyandang disabilitas, terutama setiap Jumat dengan pelatihan membatik.


“Yang paling membanggakan bagi saya, saat ini banyak jalan dan tempat di Kerinci dan Sungai Penuh yang mulai memakai tulisan Aksara Incung. Tak banyak yang tahu, gagasan itu lahir dari karya seni batik yang kami kenalkan dari sanggar kecil ini,” tutur Ida penuh haru.


Kunjungan ini merupakan bagian dari riset jangka panjang BRIN selama tiga tahun. Rencananya, hasil riset ini akan dituangkan dalam karya ilmiah. Tim BRIN dijadwalkan kembali ke sanggar sebelum tanggal 17 Juni mendatang untuk melanjutkan pengumpulan data.


Sanggar Batik Disabilitas Prestasi Rindani bukan hanya menjadi pusat pelestarian budaya, tetapi juga simbol pemberdayaan sosial di tengah masyarakat. Melalui aksara kuno dan selembar kain batik, sejarah dan harapan ditulis kembali. (*red) 






Bagi anda yang ingin tahu pembahasan menarik mengenai upaya pelestarian Aksara Incung Maupun Batik lainnya, bisa mengunjungi tautan di bawah ini:


https://youtu.be/s_x47fkaluw?feature=shared

https://jambicorner.com/content/peristiwa/kisah-inspiratif-pencetus-aksara-incung-kerinci-sebagai-trend-busana-batik