Pendidikan Orang Tua Terhadap Stunting

Deliana BR Karo



KerisJambi.id - Mahasiswi Program Magister Kebidanan di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, yang berasal dari kota kelahiran Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Prov. Jambi. Telah melakukan Praktek Klinik Pemberdayaan dalam Praktek Kebidanan yang mengangkat kasus terkait Stunting di salah satu Kalurahan di Kab. Sleman, DIY.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting pada balita, seperti pola makan selama kehamilan, Riwayat pemberian ASI Eksklusif, Pola asuh orang tua, faktor ekonomi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pola pemberian makan balita dan faktor Pendidikan orang tua. 

Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak tercukupi. Berdasarkan data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan oleh World Health Organization (WHO), pada tahun 2020 sebanyak 22% atau sekitar 149,2 juta balita di dunia mengalami kejadian stunting. Menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), angka stunting di Indonesia berada pada 21,6% dan pada tahun 2020 angka stunting menurun menjadi 17,8% akan tetapi belum memenuhi target penurunan angka kejadian stunting Nasional yaitu <20%. Pada daerah Yogyakarta kasus stunting di perkirakan sebanyak 16,4%, sementara pada Kabupaten Sleman angka stunting diperkirakan sebanyak 15%, khususnya pada daerah Kaluharahan T terdapat 18 kasus anak yang mengalami stunting. 

Tingkat Pendidikan orang tua dalam pemahaman dan pengetahuan akan memberikan asuhan kebutuhan terhadap kejadian anak stunting. Dampak yang ditimbulkan dari anak stunting yaitu dampak stunting jangka pendek meliputi hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, penurunan fungsi kognitif, dan gangguan sistem pembakaran. Sedangkan dampak jangka panjang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis. 

Ny. L merupakan salah satu ibu yang berada di Kalurahan T, Kab. Sleman, Yogyakarta, dimana balitanya adalah salah satu anak yang mengalami stunting, hal tersebut diketahui dari hasil Z score berada di -2 garis merah. Balita berusia 26 bulan dengan berat 9,3 kg. Saat ditanya mengenai Pendidikan orang tua, mereka mengatakan bahwa ibu lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan suami lulusan Sekolah Dasar (SD), tidak pernah mengikuti pelatihan terkait parenting class dan kelas ibu. Hal tersebut membuat ibu kurang memahami kebutuhan dan perkembangan yang baik dalam tumbuh kembang balita yang normal.

Menurut Sutriyawan dan Nadhira 2020, kurangnya pengetahuan ibu tentang stunting juga disebabkan oleh masih rendahnya pendidikan, beberapa penelitian menunjukan bahwa sebagian besar ibu berpendidikan rendah mengalami kejadian stunting pada perkembangan anak. Pendidikan ibu yang baik akan berdampak pada peningkatan pengetahuan dan sikap ibu yang baik juga terhadap penerimaan informasi baru terkait gizi dan kesehatan pada anak. Kebanyakan kasus angka kejadian stunting dialami oleh orang tua yang berpendidikan rendah dan tidak memahami kebutuhan tumbuh kembang anak.

Tingkat Pendidikan orang tua terutama Ibu yang kurang memahami pengetahuan dalam memenuhi kebutuhan anak yang baik serta sesuai dengan usia dan kebutuhan untuk tumbuh kembang balita dapat menjadi faktor yang menyebabkan stunting.

KESIMPULAN 

Mendapatkan peran orang tua berarti sama hal nya dengan mendapatkan tanggung jawab untuk bisa membesarkan dan memberikan kebutuhan yang baik terhadap anak, oleh karena itu pengetahuan dan pemahaman orang tua terhadap kondisi anak dibutuhkan agar dapat menciptakan generasi yang baik dan sehat.