KOHATI BERNILAI, PEREMPUAN BERDAULAT Refleksi dan Harapan di Milad KOHATI ke-60



Oleh : Marshanda Putri Irliadurrah, M.Pd (aktivis perempuan)

Kerisjambi.id Jambi 17/09/2026 - Enam puluh tahun bukanlah sekedar angka. Enam puluh tahun adalah perjalanan panjang tentang perjuangan, pengabdian, proses kaderisasi, dan keberanian perempuan untuk terus mengambil peran dalam kehidupan. Milad KOHATI ke-60 menjadi momentum untuk tidak hanya mengenang perjalanan yang telah dilalui, tetapi juga bertanya kembali: "Perempuan seperti apa yang ingin kita lahirkan dari KOHATI? HmIwati seperti apa yang dibutuhkan zaman? Dan apa yang dapat kita berikan kepada masyarakat sebagai perempuan yang pernah ditempa dalam rahim perkaderan HMI?"

Tema “KOHATI Bernilai, Perempuan Berdaulat” bukan sekedar slogan. Tema ini seharusnya menjadi refleksi bagi setiap HmIwati bahwa keberadaan kita di KOHATI harus memiliki nilai, dan kedaulatan perempuan bukan hanya tentang kebebasan untuk berbicara, tetapi tentang kemampuan untuk menentukan sikap, memiliki pengetahuan, menjaga prinsip, bertanggung jawab atas pilihan, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

HmIwati dan Nilai yang Harus Dibangun

Sejatinya, menjadi HmIwati bukan hanya tentang mengenakan identitas sebagai kader perempuan HmI. Lebih dari itu, HmIwati adalah seseorang yang terus belajar menjadi manusia yang memiliki nilai.

Nilai itu dibangun melalui ilmu, akhlak, keberanian, integritas, dan kepedulian. HmIwati idealnya tidak berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi juga mampu membaca keadaan. Tidak hanya pandai mengkritik, tetapi mampu menawarkan solusi. Tidak hanya aktif dalam forum, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat setelah forum selesai.

KOHATI seharusnya menjadi ruang yang membuat perempuan semakin kuat, bukan semakin bergantung. Ruang yang membuat HmIwati semakin berani, tetapi tetap memiliki adab. Ruang yang melatih perempuan untuk kritis, tetapi tidak kehilangan empati. Ruang yang membentuk perempuan agar mampu berdiri dengan kemampuan dirinya sendiri, tanpa harus kehilangan kelembutan dan kemanusiaannya.

Sebab perempuan yang berdaulat bukanlah perempuan yang merasa paling kuat dibandingkan orang lain. Perempuan yang berdaulat adalah perempuan yang mengenal dirinya, mengetahui nilai yang diyakininya, mampu menentukan pilihan dengan sadar, dan berani mempertanggungjawabkan pilihannya.

HmIwati di KOHATI

Harapannya, KOHATI ke depan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya HmIwati, tetapi benar-benar menjadi "ruang pendidikan, ruang pertumbuhan, dan ruang perjuangan perempuan"

KOHATI harus mampu melahirkan kader perempuan yang memiliki kapasitas intelektual, kematangan emosional, kekuatan spiritual, dan kepekaan sosial.

HmIwati yang berada di KOHATI hendaknya tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari KOHATI?” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya berikan kepada KOHATI?”

Karena organisasi akan tumbuh ketika kadernya tidak hanya menjadi pengguna organisasi, tetapi juga menjadi penggerak organisasi.

Harapannya H,Iwati di KOHATI berani mengambil tanggung jawab. Berani memimpin, berani belajar, berani salah, berani menerima kritik, dan berani memperbaiki diri. Jangan takut menjadi perempuan yang memiliki gagasan. Jangan takut berbeda pendapat. Jangan takut berada di ruang-ruang pengambilan keputusan.

Namun keberanian itu harus berjalan bersama etika. Kita boleh kuat dalam prinsip, tetapi tetap santun dalam bersikap. Kita boleh kritis terhadap keadaan, tetapi tidak kehilangan rasa hormat kepada sesama.

KOHATI juga perlu menjadi rumah yang saling menguatkan. Jangan sampai sesama HmIwati justru saling menjatuhkan hanya karena perbedaan pilihan, posisi, atau kepentingan. Perempuan membutuhkan perempuan lainnya untuk saling menguatkan.

Sebab ketika satu H,Iwati tumbuh, sesungguhnya ia sedang membuka jalan agar HmIwati lainnya juga dapat tumbuh.

HmIwati dan HMI

Menjadi HmIwati bukan berarti seluruh ruang perjuangan perempuan hanya berada di KOHATI.

KOHATI adalah wadah pengembangan perempuan dalam HmI, tetapi HmIwati juga merupakan bagian dari keseluruhan keluarga besar HmI. Karena itu, HmIwati harus mampu mengambil peran dalam ruang-ruang HMI secara lebih luas.

Jangan sampai HmIwati hanya dipandang sebagai pelengkap dalam kegiatan organisasi. HmIwati harus hadir sebagai "subjek kaderisasi, pemikir, pemimpin, organisator, dan penggerak perubahan."

Perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar tentang kepemimpinan, perkaderan, intelektualitas, keumatan, kebangsaan, dan persoalan sosial. HmIwati harus berani memasuki ruang-ruang tersebut dengan kapasitas dan kompetensinya.

Namun demikian, keberadaan HmIwati dalam HmI bukan untuk menggantikan atau meniadakan peran kader laki-laki. Justru yang dibutuhkan adalah hubungan yang saling menghargai, saling mendukung, dan saling melengkapi.

HmI harus menjadi ruang di mana kader laki-laki dan perempuan sama-sama berkembang sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas perannya di tengah masyarakat.

Karena perjuangan HmI bukan hanya milik laki-laki. Perempuan juga memiliki tempat, suara, tanggung jawab, dan kontribusi dalam perjuangan tersebut.

Perempuan Berdaulat di Tengah Masyarakat

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan KOHATI bukan hanya seberapa banyak kader perempuan yang pernah mengikuti perkaderan. Ukurannya juga adalah seberapa besar nilai yang dibawa kader tersebut setelah kembali ke masyarakat.

Perempuan berdaulat harus mampu hadir di tengah masyarakat dengan membawa ilmu dan kebermanfaatan.

Ia dapat hadir sebagai pendidik, pemimpin, akademisi, pengusaha, aktivis, ibu, profesional, maupun dalam berbagai ruang pengabdian lainnya. Apa pun profesinya, ia tetap memiliki kesempatan untuk menjadi manusia yang memberikan manfaat.

Perempuan tidak seharusnya hanya dibicarakan ketika ada persoalan tentang perempuan. Perempuan juga harus menjadi bagian dari mereka yang membicarakan pendidikan, ekonomi, kebudayaan, lingkungan, teknologi, politik kebangsaan, kemanusiaan, dan berbagai persoalan masyarakat lainnya.

Karena persoalan masyarakat adalah persoalan bersama. Maka harapannya, perempuan yang lahir dari KOHATI adalah perempuan yang ketika kembali ke masyarakat tidak kehilangan identitas intelektual dan moralnya.

Ia tidak mudah terbawa arus. Ia mampu berpikir sebelum bertindak, mampu berdialog ketika berbeda, mampu berdiri ketika prinsipnya diuji, dan mampu tetap rendah hati ketika mendapatkan posisi.

Enam Puluh Tahun KOHATI: Sudah Sejauh Mana Kita Bertumbuh? Milad ke-60 seharusnya menjadi ruang untuk bertanya kepada diri sendiri.

Apakah kita sudah menjadi HmIwati yang memiliki nilai?

Apakah ilmu yang kita dapatkan di HmI sudah memberikan manfaat?

Apakah keberadaan kita di KOHATI sudah memberikan dampak?

Apakah kita sudah mampu menjadi perempuan yang menentukan arah hidupnya dengan kesadaran dan tanggung jawab?

Dan yang paling penting, ketika suatu hari kita tidak lagi berada di struktur organisasi, apakah nilai-nilai KOHATI masih hidup dalam diri kita?

Karena organisasi boleh berganti kepengurusan. Jabatan boleh berakhir. Forum boleh selesai. Tetapi nilai perjuangan seharusnya tetap hidup dalam diri seorang kader. KOHATI tidak boleh hanya melahirkan perempuan yang hebat ketika berada di dalam organisasi, tetapi juga harus melahirkan perempuan yang tetap bernilai ketika berada di luar organisasi.

Harapan untuk KOHATI ke Depan

Di usia yang ke-60 ini, harapannya KOHATI semakin mampu menjadi ruang yang melahirkan HmIwati yang berilmu, berakhlak, mandiri, kritis, berani, berdaya, dan berkepekaan sosial.

HmIwati tidak harus menjadi seseorang yang sempurna. Tetapi ia harus menjadi seseorang yang mau terus bertumbuh.

Tidak harus selalu berada di depan, tetapi ketika dibutuhkan ia siap mengambil tanggung jawab.

Tidak harus selalu menang dalam perdebatan, tetapi mampu memahami perbedaan.

Tidak harus selalu memiliki jabatan, tetapi tetap mampu memberikan pengaruh positif.

Dan tidak harus selalu berbicara tentang perempuan, tetapi mampu menjadi perempuan yang membuktikan bahwa dirinya mampu berkontribusi bagi kemanusiaan.

Semoga KOHATI tidak hanya menjadi tempat perempuan belajar bagaimana menjadi pemimpin, tetapi juga menjadi tempat perempuan belajar bagaimana menjadi manusia. Semoga setiap HmIwati mampu membawa nilai KOHATI ke mana pun ia pergi.

Sebab pada akhirnya, kedaulatan perempuan bukan hanya tentang memiliki ruang, tetapi tentang mampu mengisi ruang tersebut dengan kapasitas, integritas, dan kebermanfaatan.

Selamat Milad KOHATI ke-60.

KOHATI Bernilai, Perempuan Berdaulat.

Mari terus bertumbuh, berproses, dan mengambil peran. Bukan untuk membuktikan bahwa perempuan lebih tinggi dari siapa pun, tetapi untuk membuktikan bahwa perempuan juga mampu berdiri tegak, berpikir merdeka, berkarya, memimpin, dan mengabdi bagi kemanusiaan. *hsn.

Editor : Husni Mubarok.